search engine

Google
 
Web YOUR DOMAIN NAME

Rabu, 12 Oktober 2011

HASIL PRESTASI ORANG CACAT DI BADAN PEMBINA OLAHRAGA CACAT (BPOC) PROVINSI SUMATERA UTARA PRIODE THN 2004-2009


Reputasi yang dibangun oleh BPOC selaku badan pembinaan pada olahraga penyandang cacat merupakan sebuah gerakan yang dibangun atas dasar panggilan nurani yang berorientasi pada prestasi dan ingin mensejajarkan penyandang cacat layaknya para atlit-atlit yang berkompetisi didunia olahraga, mempersembahkan prestasi demi nama negeri dan tanah air tercinta. Olahraga adalah dunianya para penggiat tidak peduli apakah mereka itu normal anggota tubuhnya atau para penyandang cacat. Dalam olahraga selain menyehatkan tentu memprestasikan siatlit yang memang ulet dan bekerja keras dalam mempersiapkan dirinya untuk berkompetisi dan fair dalam melakukannya. Olahraga yang merupakan wadah dengan ruang gerak dinamis maka selayaknya pembinaan yang dilakukan oleh BPOC provinsi Sumatera Utara tidak berorientasi kepada belas kasihan yang dalam artian keadaan pada atlitnya yang mengalami kecacatan bukanlah sebuah hambatan untuk menempuh dan meraih prestasi. Bukti konkrit yang ditunjukkan oleh BPOC Sumut dalam melakukan pembinaan terlihat dari tercatatnya beragam prestasi dalam dan luar negeri disegenap kesempatan yang diikuti.

Awal mula keberadaan BPOC di Sumatera Utara
Sedemikian besar image dan gaung yang dibangun oleh BPOC Sumut dalam menempah dan mempersiapkan atlit-atlitnya untuk berlaga di segenap even penyandang cacat disegala cabang olahraga dan menuai beragam prestasi dan penghargaan jika ditelusuri lebih jauh siapa sangka bahwa awal mula keberadaan organisasi olahraga bagi penyandang cacat ini begitu terseok-seok dan cenderung sulit baik untuk sarana maupun prasarananya.
Saat menguraikan cerita seputar keberadan BPOC di kawasan provinsi Sumatera Utara ungkap Asmayadi yang saat ini menjabat sebagai ketua umum beliau menguraikan bahwa “BPOC awal mulanya berkantor di Jl. Halat Gg.Makmur No.3 Medan. Dan keberadaan kantor yang menjadi secretariat ini jangan dianggap selayaknya kantor yang berada dipinggir jalan raya dengan bangunan permanent atau sekelas ruko dengan lantai-lantai yang bertingkat, namun secretariat BPOC adalah secretariat yang menumpang di rumah orang tua saya pada waktu itu, tutur lelaki paruh baya ini saya mengungkapkan mengenai keadaan awal mula BPOC di Sumatera Utara. Namun dalam mempersiapkan atlit yang memang betul-betul matang BPOC Sumut tidak mau tanggung-tanggung. Dan ini bisa ditanyakan langsung pada atlit yang bersangkutan, bagaimana ia latihan yang kondisi sebelumnya belum memiliki fasilitas sendiri. Untuk transportnya ia harus diantar dan dijemput nggak peduli walau panas terik ataupun hujan yang menerpa tat kala itu. Perlahan namun pasti BPOC Sumut menunjukkan eksistensinya selaku organisasi Pembina olahraga bagi penyandang cacat. Dan syukurnya kendati masih susah namun BPOC Sumut mampu berprestasi dikejuaraan single event ataupun multi event, dari kondisi yang sedemikian rupa tersebut menempah atlit-atlit seperti Anto Boy, Buala Zebua, Alan Sastra, Adi Maslim, Nurtani, Budi Ardi, Nurmala dan masih banyak lagi yang bila dituturkan begitu panjang. Mereka sembari mengalami masa karantina dalam pembinaan BPOC sumatera Utara mereka juga nggak ubahnya anggota keluarga atau selayaknya anak, yang dikarenakan kantor BPOC pada saat itu berada di rumah yang statusnya adalah tempat kumpul dan beristirahatnya anggota keluarga.

2003 – 2004 Periode Sekretriat dan Kantor Baru BPOC Sumut

Memasuki masa jabatan yang tidak begitu lama, selaku ketua umum BPOC Sumut saat kepemimpinan Provinsi di kepalai oleh alm. H.T.Rizal Nurdin. Orang nomor 1 di BPOC Sumut Asmayadi memberanikan diri untuk bermohon dan beraudensi bagi kelangsungan BPOC di Sumatera Utara, sehingga dari hasil pertemuan tersebut menghasilkan keputusan bahwa untuk secretariat BPOC Sumut sepenuhnya dikonsentrasikan di Jl. Stadion Teladan No.22 Medan. Dimana kantor ini sebelumnya adalah kantor KONI Sumut.
Hal tersebut menambah kegembiraan bagi segenap atlit dan pengurus BPOC Sumut dan semangkin terangsang lagi untuk menuai prestasi karena apresiasi pemerintah sudah menunjukkan kearah yang sangat positif. Maka di tahun 2004 yakni pada Porcanas XII di Palembang atau bertepatan selang beberapa waktu dari PON XVI, BPOC Sumut diluar dugaan tampil dengan menduduki peringkat III nasional, yang awalnya hanya mentargetkan peringkat V sebab bila dilihat pesaing-pesaing dari daerah lain seperti dari daerah penyandang cacat tanah Jawa mereka berada satu tingkat diatas Sumut. Namun dikarenakan motto BPOC Sumut adalah “Sumut Jaya” dan patriotisme yang kuat dikalangan atlit yang bertanding, maka tak salah bila BPOC Sumut mampu mempersembahkan yang terbaik bagi daerahnya dan sekaligus menjawab dari besarnya jasa Gubernur yang mempercayakan Gedung KONI Sumut bagi pembinaan atlit-atlit penyandang cacat.
Perjalanan dari tahun 2003 ke 2004 BPOC Sumut turut berpartisipasi dalam mendedikasikan atlit-atlitnya kepengurus pusat BPOC dalam mengikuti even internasional dan tercatat dari kejuaraan tersebut atlit BPOC Sumut yang disertakan di kontingen Indonesia memberikan sumbangsih berupa 2 perak, 1 perunggu di Asean Para Games Vietnam. Dan untuk Youth Games di Hongkong atlit Sumut menyumbang 1 perunggu bagi Indonesia.

Menyapu Bersih Medali pada Kejurnas Angkat Berat 2005
Prestasi dan prestasi lagi hal inilah yang senantiasa memotivasi BPOC Sumut untuk mendedikasikan karya terbaiknya bagi daerah, yakni dengan menyapu bersih medali emas dan BPOC Sumut keluar sebagai juara Umum pada event Kejurnas Angkat Berat I.
Dan masih ditahun yang sama saat atlit BPOC Sumut diberangkatkan untuk mengikuti Asean Paragames Philipina dan menuai hasil 3 Perak, 2 Perunggu.

Mendulang Kejayaan di Tahun 2006
Kota Ternate – Maluku Utara yang merupakan kota yang kaya akan rempah-rempah menjadi saksi dari kontingen BPOC Sumut dengan menyabet 1 medali emas. Kemudian masih ditahun yang sama yakni tepatnya di Bali juga menjadi saksi dari keperkasaan Kontingen BPOC Sumut yang keluar menjadi Juara Umum Kejurnas Angkat Berat.
Dan untuk tingkat internasionalnya Sumut kembali menuai prestasi dengan menyumbangkan 1 medali perak pada even Fespic Games Kuala Lumpur Malaysia.

Tahun 2007 Emas di Event Internasional
Setelah sebelumnya kontribusi atlit BPOC Sumut hanya mampu memberikan medali perak dan perunggu di event internasional. Namun di tahun 2007 yang lalu atlit binaan BPOC Sumut memberikan dedikasinya dengan mempersembahkan Emas pertama kalinya yang pernah dikontribuikan oleh atlit cacat asal Sumut adapun moment tersebut diperoleh pada event Asean Paragames Thailand.
Selain moment event internasional atlit cacat Sumut juga memboyong gelar juara umum yang diperoleh pada Kejurnas Angkat Berat di Solo, dan Kejurnas Tennis Meja yang jug diadakan didaerah yang sama.

Peringkat IV nasional di 2008

Secara peringkat memang atlit cacat yang diboyong oleh BPOC Sumut untuk berlaga di Porcanas XIII Kaltim Samarinda yang lalu memang menurun. Namun untuk raihan medali emas kontingen BPOC Sumut begitu fantastis karena mampu melebihi dari yang didapat di Palembang pada Porcanas XII. Persentase keberhailan yang didapatpun begitu tinggi sebab dari 100% atlit yng berlaga di Kaltim pada Porcanas XIII hanya berkisar 10% yang tidak menyumbangkn medali.
Membina Dengan Totalitas Tanpa Ada Unsur Kasihan

Hal inilah yang terkadang hampir dilupakan oleh orang yang memandang egudang prestai yang pernah diperoleh oleh BPOC Sumut. Kendati orientasi pembinaan olahraga berfokus pada atlit penyandang cacat namun hal tersebut tidaklah lantas penggemblengan atlit yang dilakukan setengah-setengah dikarenakan ada unsur kasihan. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh ketua umum BPOC Sumut sendiri bahwa kecacatan bukanlah penghalang untuk berprestasi terlebih dalam berolahraga sebab dalam kompetisinya kan yang dihadapi juga sesame penyandang cacat, maka dari itu tidak ada alasan bagi atlit apabila sudah diinstruksikan oleh pelatih untuk berlatih lebih keras lagi menjadi mundur, sebab sesuai dengan motto BPOC Sumut yakni fisik cacat terkadang lebih baik ketimbang kecacatan yang ada juga mempengaruhi daripada mental.
Banyak prestai-prestasi yang dipersembahkan buat khalayak ramai khususnya bagi provinsi tercinta sejatinya jangan dianggap sebagai sebuah tampilan yang hanya dilihat sebelah mata, namun pandanglah persaingan diantara penyandang cacat ini selayaknya mereka yang bertarung dan berkompetisi dalam event-event nasional dan internasional, toh segala prestasi bukanlah hanya buat diri atlit pribadi namun lebih dari itu prestasi yang mereka dapatkan sepenuhnya dipersembahkan buat keharuman nama negeri dan daerah tercinta.
Intinya kondisi yang serba sulit seperti yang pernah dialami oleh BPOC Sumut merupakan sebuah perjalanan yang kiranya harus dihadapi dengan mental yang kuat serta kendati tubuh cacat pandangan pesimis dan penuh keraguan sejatinya bukanlah sebuah hal yang harus dibuang jauh-jauh, namun jadikanlah hal tersebut sebagai sebuah motivasi yang bisa menggerakkan sendi-sendi kebangkitan untuk menjadi lebih baik.
Prestasi yang diperoleh ini dibina dengan sepenuh hati. Pengabdian tampa pamrih yang dilakukan pengurus / pelatih dan segenap jajarannya.
Oleh : B.Utama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar